 |
Berita Politik (Juli 2003) Pada tanggal 21 Juli 2003 di Brussel, telah berlangsung pertemuan Dewan UE Urusan Umum dan Hubungan Eksternal (General Affairs and External Relations Council/ GAERC) yang pertama kali diadakan di bawah Presidensi Itali. Pertemuan telah membahas berbagai isu internasional antara lain, Timur Tengah, Iran, Irak, European Security and Defense Policy/ESDP, hubungan UE-Afrika dan Kongo, dan hubungan UE-PBB serta rencana pertemuan WTO tingkat Menteri di Cancun, bulan September mendatang. Isu-isu tersebut umumnya termasuk dalam prioritas Presidensi Itali di bidang hubungan eksternal. Pertemuan juga telah dihadiri oleh para menlu dari negara-negara aksesi UE dengan status sebagai "observer". Berikut adalah bagian-bagian penting dari konklusi yang dihasilkan pertemuan Dewan UE khusus di bidang politik dan keamanan:
-
Dewan UE menekankan tidak ada pilihan lain bagi terwujudnya perdamaian di Timur Tengah selain pelaksanaan penuh road map oleh kedua pihak terkait (Israel dan Palestina) dan menentang upaya oleh pihak manapun untuk menyimpang dari jalur ini. Dewan menyambut baik kemajuan yang dicapai kedua pihak, khususnya dalam pemberantasan terorisme dan pengurangan aksi kekerasan di kawasan. Dewan selanjutnya meminta Israel menghentikan pembangunan pemukiman di wilayah pendudukan, menghentikan pembangunan benteng pemisah di Wilayah Gaza, melakukan pembebasan tawanan Palestina dan mengadili para pelaku tindakan terorisme, serta membongkar kapabillitas dan prasarana bagi kegiatan-kegiatan terorisme.
Dewan juga mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk melaksanakan penuh perjanjian gencatan senjata, menahan diri dari provokasi dan tindak-tindak kekerasan serta memulihkan kembali rasa saling percaya di antara mereka. Dewan sepakat untuk melanjutkan kerjasama dengan AS dan anggota-anggota Quartet lainnya dalam segala isu yang berhubungan dengan pelaksanaan the road map. Dewan selanjutnya menggarisbawahi pentingnya dukungan dari semua pihak bagi Otoritas Palestina dan Pemerintahnya antara lain dengan tetap menjalin kontak/hubungan dengan mitra-mitra wicara di tubuh Otoritas Palestina.
Dewan mendukung upaya PM Mahmoud Abbas dalam menjalankan reformasi dan membangun ekonomi Palestina. Dewan menyambut baik upaya Komisi Eropa dalam meningkatkan dan memfasilitasi program-program bantuan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Dalam kaitan ini, Dewan juga menyambut baik keinginan Pemerintah AS untuk turut serta dalam upaya Pemerintah Palestina dengan memberikan bantuan langsung kepada Otoritas Palestina.
-
Dewan UE menegaskan kembali bahwa kemajuan dalam hubungan UE-Iran di bidang ekonomi dan politik harus berjalan secara bersamaan. Penguatan hubungan-hubungan ekonomi hanya dapat dicapai jika terdapat kemajuan dalam empat area yang menjadi keprihatinan UE, yaitu HAM, terorisme, non proliferasi nuklir dan proses perdamaian di Timur Tengah. Dewan UE prihatin atas perkembangan program nuklir Iran dan dampak yang kemungkinan ditimbulkannya, meminta Pemerintah Iran bersikap transparan dan bekerjasama penuh dengan the International Atomic Energy Agency (IAEA), serta memenuhi permintaan lembaga tersebut. Penerimaan tanpa syarat, penandatangan dan implementasi IAEA Additional Protocol on Safeguards oleh Iran merupakan langkah penting yang dapat dinilai oleh masyarakat internasional sebagai tanda komitmen Iran di bidang non proliferasi senjata pemusnah massal. Dewan UE memperingatkan bahwa apabila Iran tidak bekerjasama sepenuhnya dengan IAEA, UE akan meninjau kembali hubungannya dengan Iran bulan September mendatang, khususnya dalam kaitan dengan kelanjutan perjanjian kerjasama dan perdagangan yang saat ini sedang dirundingkan. Dewan menyatakan keprihatinan mendalam atas terbunuhnya wartawan foto Zahra Kazemi (yang ditangkap bulan lalu dan kemudian dilaporkan mengalami penyiksaan oleh aparat keamanan Iran) dan menyambut baik keputusan Presiden Khatami agar empat Menteri kabinetnya segera melakukan investigasi penuh atas insiden tersebut. Dewan UE juga prihatin atas situasi HAM di Iran khususnya atas penangkapan-penangkapan terhadap para pelajar, wartawan dan pihak-pihak lainnya dalam demonstrasi pelajar barus ini. Selanjutnya, Dewan menyerukan kemajuan dalam bidang HAM dan menekankan pentingnya kerjasama penuh Iran dengan mekanisme-mekanisme HAM PBB serta menegaskan kembali pentingnya pencapaian hasil-hasil nyata dalam kerangkakerja dialog HAM UE-Iran.
-
Dewan UE menyambut baik pembentukan Iraqi Governing Council sebagai langkah awal penting ke arah satu pemerintahan perwakilan yang dibentuk oleh rakyat Irak, yang diakui secara internasional. Dewan mengingatkan kembali Resolusi DK-PBB 1483 yang mendukung pembentukan administrasi sementara di Irak dan menyatakan keyakinannya bahwa PBB melalui Wakil Khusus Sekjen PBB, Sergio Vieira de Mello akan terus memberikan kontribusi bagi pembangunan Irak paska konflik, dan menyatakan kesiapan UE untuk memfasilitasi upaya yang bersangkutan dalam memenuhi tugasnya tersebut. UE menyatakan kesiapannya untuk berpartisipasi dalam rekonstruksi Irak sesuai dengan kerangka kerja resolusi DK-PBB 1483. Dewan selanjutnya mendukung usulan Komisi Eropa untuk membentuk satu ''trust fund'' baru bagi rekonstruksi Irak di bawah payung PBB dan Bank Dunia, yang terpisah dari ''fund'' yang telah didirikan oleh otoritas pendudukan (Amerika Serikat) untuk mendanai anggaran pembangunan Irak.
-
Keputusan Dewan UE tentang Iran mendapat perhatian besar berbagai media internasional, karena keputusan tersebut memuat peringatan keras kepada pemerintah Iran mengenai kemungkinan dilakukan penangguhan perundingan perjanjian kerjasama dan perdagangan oleh UE, apabila Iran tidak memberikan kerjasama penuh dengan IAEA dalam pelaksanaan program nuklirnya (keputusan Dewan UE ini sendiri langsung ditentang oleh pemerintah Iran). Berbeda ketika menghadapi krisis Irak, UE sejauh ini telah memperlihatkan kesatuan sikap dalam menghadapi isu senjata pemusnah massal Iran, dan secara umum mempunyai keprihatinan yang sama dengan AS. Bedanya dengan sikap AS, UE sampai saat ini tetap mempertahankan dialog dengan para pejabat Iran.
-
Hal lain yang menarik dari pertemuan GAERC tersebut adalah berkaitan dengan isu Irak. Menyikapi perkembangan Irak pasca konflik, UE terus memperlihatkan posisi yang berbeda dengan AS. Posisi dasar UE adalah menekankan perlunya satu pendekatan multilateral dan dalam hal ini, tetap menghendaki PBB agar memegang "central role" dalam rekonstruksi Irak, bukan pihak otoritas pendudukan yang dipimpin AS. Dalam rangka mewujudkan peranan PBB sebagaimana dikehendaki UE dimaksud, pada pertemuan GAERC, beberapa Menlu UE melontarkan gagasan perlunya Resolusi DK-PBB baru, yang memberikan mandat lebih besar kepada PBB dalam rekonstruksi dan pemeliharaan keamanan di Irak.
-
Berkembangnya gagasan ini di kalangan Dewan Menteri UE dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya korban di kalangan tentara AS dan belum kondusifnya situasi keamanan di Irak. Keadaan ini tampaknya telah mendorong sejumlah Menteri UE mempertanyakan kembali legitimasi kehadiran pasukan koalisi pendudukan di negara tersebut. Dalam satu wawancara pers sesuai pertemuan, Menlu Perancis, Dominique de Villepin menekankan bahwa Resolusi DK-PBB 1483 (yang mengakui Coalition Provisional Authority sebagai pihak yang "in charge" di Irak) tidaklah cukup untuk memberikan peranan kunci kepada PBB sebagaimana diharapkan UE. Menlu Villepin selanjutnya mengemukakan bahwa hanya pasukan penjagaan keamanan di bawah mandat PBB yang dapat menjamin keamanan di Irak secara syah dan efisien. Namun, usulan ini mendapat tentangan dari Inggris (sebagai sekutu terdekat AS), yang pada pertemuan tersebut mencoba meyakinkan bahwa sejauh ini Resolusi DK-PBB baru masih belum diperlukan.
-
Pentingnya pendekatan multilateral bagi UE dalam menangani masalah Irak, juga terlihat dari dilontarkannya gagasan pembentukan satu ''trust fund'' baru yang dikelola oleh masyarakat internasional, terpisah dari ''fund'' yang telah didirikan oleh Otoritas pendudukan (Amerika Serikat) yang dananya sebagian besar berasal dari hasil penjualan minyak Irak. Bagi UE, ''trust fund'' yang bersifat multilateral di bawah naungan PBB ini adalah penting guna menghindari kesan bahwa UE dan donor-donor lain mendukung dan membiayai pendudukan Irak oleh AS.
-
Satu sisi yang juga menarik dari penyelenggaraan pertemuan GAERC kali ini adalah adanya kunjungan Menlu Israel Sylvan Shalom kepada para menlu UE yang dilakukan di sela-sela pertemuan GAERC. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya pihak Israel untuk memperbaiki hubungannya dengan UE. Pada pertemuannya dengan para menlu UE tersebut, Menlu Shalom menyerukan agar UE berperan lebih besar dalam proses perdamaian di Timur Tengah. Seruan ini sekilas tampak merupakan satu hal "'baru" dalam sikap di pihak Israel selama ini seringkali menuduh UE cenderung memihak Palestina dalam konflik Timur Tengah.
-
Namun seruan Menlu Israel telah ditanggapi secara skeptis oleh beberapa menlu UE meskipun seruan tersebut sejalan dengan keinginan UE untuk mengambil peranan yang lebih besar dalam penyelesaikan konflik yang selama ini sangat didominasi oleh AS. Di antara para menlu UE sudah terdapat kekecewaan atas sikap Israel yang selalu mempengaruhi AS sehingga bersikap ragu dalam mendukung implementasi the road map yang turut dirancang oleh UE. Sementara itu, beberapa diplomat dari negara-negara UE menyatakan kepada pers bahwa sejauh ini belum terlihat perubahan kebijakan di pihak Israel dalam perdamaian di Timur Tengah dan menilai seruan Menlu Shalom tersebut tidak tulus, karena dibaliknya terdapat sederet permintaan sebagai kompensasi. Salah satunya adalah meminta agar UE bergabung dalam kampanye AS dan Israel untuk mengucilkan Presiden Palestina Yasser Arafat, permintaan yang tentu ditolak oleh UE. Selain itu, Israel juga tidak mempedulikan permintaan UE untuk menghentikan pembangunan benteng ''keamanan" yang memisahkan Jalur Gaza dan Israel.
Kembali Daftar Berita Politik, Edisi Juli 2003
Kembali Daftar Isi Buletin PRI-ME, Edisi Juli 2003 
| |