 |
Berita Pertanian (Juli 2003) Pihak Amerika Serikat telah menyatakan maksudnya untuk tetap mengajukan tuntutan melalui WTO untuk melawan moratorium UE terhadap tanaman GM (genetically modified) baru, walaupun baru-baru ini UE sudah menyetujui UU yang mengarah pada penarikan hambatan tersebut.
Pada bulan Mei 2003, Washington mengajukan tuntutan di WTO untuk moratorium UE dalam penanaman komersial varietas baru tanaman GM. Sejumlah petani AS melaporkan kerugian yang amat besar akibat peraturan keras UE tersebut, yang mempersulit ekspor hasil pertanian mereka ke Eropa. Sejak standar pelabelan dan keterlacakan diadopsi Juli, UE menyerukan bahwa tuntutan AS itu harus digugurkan. UE yakin, aturan baru tersebut merupakan langkah penting yang mengarah pada penarikan moratorium lima tahun itu, namun pihak AS masih merasa tidak puas dan mengusulkan agar pelabelan bersifat sukarela dan bukan wajib.
Allen Johnson, ketua tim negosiasi bidang pertanian di Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat, mengatakan bahwa UE belum mencapai kemajuan dalam hal persetujuan untuk produk baru GM dan karenanya tuntutan itu masih berlaku. Menurut pengamatannya, tak ada kemajuan UE untuk menyetujui masuknya varietas baru hasil bioteknologi dan bahkan sebagian negara UE tetap menghambat proses tersebut. Ia menambahkan, aturan pelabelan dan keterlacakan akan menjadi tantangan di WTO di masa mendatang.
Pada tanggal 22 Juli silam, para Menteri Pertanian UE secara resmi menyetujui dua bab undang-undang untuk menjamin pendekatan yang aman bagi bahan pangan dan pakan GM. Paket perundangan tersebut mencakup kerangka kerja yang memungkinkan untuk melacak produk yang terdiri dari atau mengandung organisme GM, baik dalam bahan pangan maupun pakan. Hal itu dimaksudkan untuk memudahkan sistem pelabelan yang cermat dan pemantauan efek yang timbul terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Namun banyak kelompok petani AS menganggap bahwa penerapan sistem pelabelan dan keterlacakan sama merugikannya bagi ekspor AS dibandingkan dengan moratorium. (DR)
| |