 |
Fokus (Januari 2003)
Oleh: Sondang Anggraini
Sejak diselesaikannya perundingan terakhir World Trade Organisation (WTO), yaitu Putaran Uruguay pada tahun 1995, UE secara bertahap membuka pasarnya terhadap impor produk pertanian dari negara ketiga. UE menghormati komitmen yang diadopsi pada tahun 1995 baik untuk menurunkan tingkat tarif, maupun menurunkan bantuan domestik dan ekspor bagi produk pertanian. Sebagai tambahan UE telah menyelesaikan berbagai perjanjian bilateral perdagangan bebas dan pengaturan preferensi perdagangan, yang secara substansial memberikan keuntungan bagi negara-negara berkembang. Elemen utama dari akses pasar adalah tingkat tarif, yaitu tariff peaks dan tariff escalation serta keberadaan dari quota. Kinerja UE berkaitan dengan tiga elemen tersebut tidak diragukan terutama komitmen UE terhadap perdagangan yang lebih bebas bagi produk pertanian.
-
TariffsTarif UE hanya bisa dianalisis secara benar dalam kaitannya diperhitungkannya pengaruh akses preferensi bagi negara berkembang. UE memberikan akses preferensi bagi negara berkembang yang sangat luas cakupannya dan tertinggi dibandingkan negara-negara industri lainnya. UE secara terus menerus menurunkan tarifnya. UE memberikan keuntungan preferensi bagi 142 negara berkembang. Selain itu, 77 negara Africa, Caribbean and Pacific (ACP) juga mendapatkan keuntungan dari akses preferensi ke pasar UE (lebih dari 80% dari ekspor Afrika yang masuk ke pasar UE mendapatkan preferensi dengan bea masuk nol). Secara sepihak, UE juga telah menurunkan tarif bagi negara miskin. Inisiatif "Everything But Arms" diberikan kepada 49 negara miskin berupa akses bebas kuota dan bea masuk ke pasar UE, termasuk produk-produk " sensitive" seperti beef, dairy products, fruit and vegetables.
-
Tariff Peaks
-
Saat ini jumlah tarif produk pertanian yang masih merupakan tariff peaks berkisar 10%, meliputi jumlah yang terbatas dari produk pertanian seperti beef and lamb, dairy products dan gula. Sebagai tambahan, merupakan hal yang penting untuk menggarisbawahi bahwa sebagian besar negara-negara berkembang tidak termasuk yang mendapat perlakuan tarif peak tersebut dengan adanya preferensi tarif.
-
Tariff Escalation
-
Hal ini merupakan permasalahan yang sebenarnya dalam pembangunan, karena tariff escalation dalam produk pertanian yang telah diproses telah mendorong negara-negara berkembang untuk mengekspor komoditi mentah tanpa menambahkan nilai apapun. Hal ini terutama merupakan kasus dari negara-negara Least Developed Countries (LDCs). Oleh sebab itu, sangat sulit untuk mengeksploitasi dinamika dari industrialisasi dan pembangunan yang menyertai komoditi pertanian yang diproses.
-
Tarif eskalasi juga sangat tinggi di negara berkembang. Khususnya di Mesir dan India. Hal inilah yang menyebabkan kerugian bagi negara berkembang, karena 40% ekspor negara berkembang menuju ke negara berkembang. Di Asia negara-negara seperti China, Malaysia dan Philipina menderita kerugian langsung dari tingginya tarif eskalasi di beberapa pasar Asia.
-
Perdagangan produk agro-food merupakan salah satu area yang sangat dinamis dalam perdagangan dunia. Dalam jangka panjang, merupakan suatu hal yang penting untuk mengurangi tarif eskalasi.
-
Quotas
-
Klarifikasi awal diperlukan, karena sejak Putaran Uruguay, dalam perdagangan di bidang pertanian kuota tidak diaplikasikan, baik bagi UE maupun negara lainnya. Kuota yang ada saat ini adalah 'tariff rate quotas' (TRQs) yang digunakan UE dengan mitra WTO di bidang pertanian.
-
UE memiliki 87 kuota tarif yang biasa disebut TRQs dan hal ini terbuka sesuai dengan Putaran Uruguay. TRQs dikelola oleh Komisi Eropa secara transparan dengan sistem 'first come first served' (20 TRQs), berdasarkan lisensi (44 TRQs) dan historic imports (22 TRQs).
-
Non tariff measures
-
Produk pertanian sering dijadikan pokok persoalan dari perlakuan non tarif berdasarkan keinginan untuk melindungi kesehatan manusia, biodiversity ataupun lingkungan. Walaupun tidak semua negara menggunakan tindakan ini, namun telah mempengaruhi sedikitnya 40% dari perdagangan produk pertanian.
-
Berdasarkan studi baru-baru ini (2) tindakan non tarif mempengaruhi khususnya ekspor dari negara LDC's. Hampir 40% dari ekspor negara LDC's terpengaruh, dengan gambaran dua kali lebih besar dibanding negara maju atau negara berkembang lainnya. UE bukan satu-satunya yang menggunakan tindakan non tarif ini. Pengguna terbesar adalah Amerika Latin (90% dari impor produk pertanian mereka dipengaruhi), Jepang (80%), Australia dan Selandia Baru (70%), Amerika Serikat (60%), Kanada (50%) sedangkan untuk UE hanya 25% yang dipengaruhi.
-
Sebagian dari tindakan ini merefleksikan perhatian yang sebenarnya terhadap kesehatan publik dan perlindungan terhadap lingkungan. Namun demikian, semakin banyaknya tindakan non tarif di banyak negara yang sering digunakan sebagai satu-satunya alat perlu diperhatikan.
-
UE sepakat untuk membuka lebih besar pasar produk pertaniannya dengan mengajukan usulan adanya suatu beban yang harus dipikul bersama diantara negara maju. Berkaitan dengan hal ini, Komisi Eropa sendiri mengajukan beberapa hal, yaitu penurunan tarif rata-rata sebesar 36% dengan penurunan minimum 15% per pos tarif. Semua negara maju dan negara berkembang memberikan bebas bea dan akses bebas kuota dari pasarnya bagi impor dari negara-negara LDCs, dan menyetjui hal ini pada konferensi menteri di Cancun.
-
Setidaknya 50% impor negara maju dari negara berkembang harus dibebaskan dari bea masuk. Seperangkat peraturan dan disiplin harus didefinisikan untuk meningkatkan transparansi, reliability dan keamanan dari pengelolaan kuota tarif. Negara maju perlu mengurangi tarif eskalasi untuk produk yang menjadi kepentingan dari Negara berkembang. Anggaran bantuan yang substansial yang berhubungan dengan bantuan teknis yang berkaitan dengan perdagangan harus dilanjutkan serta mengklarifikasi penggunaan 'precautionary measures'.
Mengurangi Bantuan Ekspor
Subsidi ekspor merupakan satu-satunya bentuk bantuan yang secara transparan dikomunikasikan, dikuantifikasi dan dikurangi pada saat Putaran Uruguay. UE telah tertinggal dengan adanya kesepakatan yang diambil pada Putaran Uruguay untuk mengurangi tingkat subsidi ekspor. Ekspor subsidi UE sudah semakin berkurang dari 25% dari nilai ekspor produk pertanian pada tahun 1992 menjadi 5.2% pada tahun 2001.
-
Anggaran pengeluaran UE untuk pengembalian atas ekspor telah menurun dari 29.5% dari nilai ekspor pada tahun 1991 menjadi 7.5% tahun 2001.
-
Komisi Eropa mengajukan penurunan rata-rata yang substansial jumlah subsidi ekspor dengan rata-rata pengurangan 45% dalam hal tingkat anggaran yang digunakan. Menghapus secara total pengembalian ekspor untuk produk-produk utama yang diberikan, dimana tidak diberikan ekspor subsidi dalam bentuk lainnya untuk produk tertentu yang dipertanyakan oleh negara anggota WTO.
Pengurangan Bantuan Domestik yang Mempengaruhi Perdagangan
Struktur pertanian dan efisiensi bervariasi di dunia dan membuat beberapa negara menjadi lebih efisien dibandingkan negara lainnya. Produksi sektor pertanian mempunyai kecenderungan untuk berfluktuasi, menimbulkan pasar yang rapuh dan kegagalan pasar. Hal inilah yang digunakan sebagai justifikasi untuk intervensi dan menjelaskan mengapa sebagai besar negara-negara di dunia mengambil tindakan dalam berbagai bentuk untuk membantu dan menstabilkan pasar produk pertanian. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya cukup banyak bentuk metoda proteksi. Sebagian tergantung pada struktur pertanian domestik seperti besarnya, efisiensi dari pertanian dan ketersediaan pembiayaan. Di negara berkembang dimana anggaran terbatas, penggunaan border protection lebih sering menjadi kebijakan yang dipilih.
Di Eropa seperti halnya negara lainnya, tantangan yang dihadapi pertanian semakin meningkat. Perlindungan ketahanan pangan dan lingkungan menjadi prioritas utama. Harapan akan tingkat kualitas makanan yang baik juga semakin besar. Berdasarkan berbagai alasan tersebut UE telah menyusun kebijakan pilihan untuk memberikan bantuan bagi para petaninya dengan tujuan untuk memberikan kepastian pertanian yang berkelanjutan dalam wilayah UE, termasuk bukan saja nilai ekonomi, tetapi kriteria sosial dan lingkungan.
UE percaya bahwa bantuan bagi petaninya sesuai dengan apa yang disepakati untuk secara substansial mengurangi bantuan domestik yang mempengaruhi pasar, karena tidak semua bentuk bantuan domestik berpengaruh buruk bagi perdagangan. Bantuan-bantuan yang diberikan telah semakin berkurang secara signifikan dan dengan proposal mid-term review Common Agriculture Policy (CAP) maka jumlahnya akan semakin berkurang. Untuk mengurangi subsidi yang secara langsung bagi produk, UE akan membayar lebih besar bagi masalah non-trade concern seperti pemeliharaan dan peningkatan lingkungan pedesaan, sementara memastikan bahwa petani menerima pendapatan pada tingkat yang minimum.
Keputusan terakhir European Council terhadap CAP, yaitu pengeluaran UE untuk 10 tahun mendatang akan menjadi berita baru yang menarik bagi negara ketiga. Dengan proses perluasan, jumlah pembayaran yang sama akan dibagikan kepada jumlah petani yang lebih besar (meningkat 56%) dengan luas pertanian yang semakin besar (meningkat 29%). Hal ini sangat berbeda dengan US Farm Bill yang meningkatkan jumlah pengeluaran bagi petani Amerika Serikat dengan perkiraan sampai 70%.
Peningkatan Jumlah Petani, Luas Areal dan Pertanian Setelah Perluasan UE
|
Deskripsi |
Jumlah Petani (000) |
Luas Area Pertanian
(000 Ha) |
Jumlah Pertanian (000) |
Rata-rata besarnya pertanian per Ha |
|
10 negara kandidat |
3800 |
38500 |
5 200 |
7 |
|
EU-15 |
6800 |
132000 |
7000 |
19 |
|
Peningkatan |
56 (%) |
29 (%) |
(74%) |
3 |
Sumber: Komisi Eropa
| |