 |
Berita Ekonomi (Agustus 2003) Prinsip utama kebijakan bantuan kemanusiaan UE adalah membantu mereka yang paling memerlukan dengan tidak memandang kewargaan negara, agama atau etnis. Hal ini tercemin dalam dukungan Kantor Bantuan Kemanusiaan UE (ECHO) kepada daerah krisis yang luput dari liputan media. Dengan anggaran sebesar €538 juta (2002), ECHO adalah salah satu donor terbesar di bidang 'relief assistance'. Komisioner UE Urusan Bantuan Kemanusian mengatakan bahwa bantuan bagi korban bencana alam maupun bencana akibat perbuatan manusia hendaknya tidak tergantung pada liputan media atau kepentingan politik, tetapi kepada kebutuhan korban. ECHO sangat prihatin mengenai berbagai masalah yang disebut sebagai 'forgotten crises', dan ECHO akan menjamin bahwa mereka tidak terlupakan oleh Uni Eropa.
Contoh paling akhir adalah paket bantuan kemanusiaan UE sebesar €3,2 juta (Juli 2003), guna menangani krisis kemanusiaan di Myanmar yang jarang diliput media. Kasus penyakit malaria dan 'water-borne diseases' telah meningkat sebagai akibat tidak tersedianya air minum bersih dan sanitasi yang buruk. Selain itu akibat krisis internal, jumlah 'internally displaced persons' (IDP) hampir mencapai 1 juta orang. ECHO merupakan donor utama yang membantu sekitar 130,000 pengungsi khususnya dari kelompok minoritas di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar. Pada bulan Mei 2003, ECHO mengalokasikan dana sebesar €4,45 juta untuk bantuan pangan dan layanan kesehatan. Pada bulan Juli 2003, Komisi Eropa juga memutuskan dua bantuan kemanusiaan masing-masing sebesar €2 juta untuk 'vulnerable populations' di Uganda Utara dan Somalia.
Pada saat krisis 'luput dari perhatian', kebutuhan para korban sering menjadi terbengkalai. Bagi Komisi Eropa, mengentaskan penderitaan mereka sama pentingnya dengan membantu mereka yang terjerat dalam krisis kemanusiaan yang 'high profile'. Berkut adalah keputusan dana ECHO sampai saat ini (2003) kepada kawasan krisis kemanusiaan yang luput perhatian media.
|
ECHO funding in 2003 |
|
Crisis zone |
Amount (Euro) |
Date of decision |
|
Sudan long running internal conflict) |
20.0m |
27 January |
|
Somalia (long running internal conflict/regular droughts and floods) |
5.0m |
3 February |
|
Northern Uganda (rebel activities leading to massive displacement) |
2.0m |
5 February |
|
Tanzania (refugees from Great Lakes crisis zones) |
24.0m |
10 February |
|
Colombia (internal conflict resulting in large-scale population displacement) |
8.0m |
3 March |
|
Tajikistan (ongoing economic crisis due to drought following civil conflict) |
10.0m |
31 March |
|
Sri Lanka (post-conflict needs) + India (Tamil refugees) |
6.0m |
31 March |
|
North Korea (chronic economic crisis) |
7.5m |
7 May |
|
Philippines (civil conflict in Mindanao) |
0.5m |
13 May |
|
Burmese refugees on the Thai/Myanmar border |
4.45m |
13 May |
|
Chechnya and neighbouring republics (internal conflict) |
16.5m |
13 June |
|
Central African Republic (aftermath of civil conflict) |
1.0m |
6 June |
|
Somalia (long running internal conflict/regular droughts and floods) |
2.0m |
4 July |
|
Northern Uganda (rebel activities leading to massive displacement) |
2.0m |
4 July |
|
Myanmar (internal crisis) |
3.32m |
17 July |
Kembali Daftar Berita Ekonomi, Edisi Agustus 2003
Kembali Daftar Isi Buletin PRI-ME, Edisi Agustus 2003 
| |