Perkembangan Kebijakan Pertahanan dan Keamanan Eropa (ESDP) oleh Agus Sardjana
Gagasan bagi pembentukan suatu Kebijakan Pertahanan Eropa sudah sejak lama ada hampir bersamaan waktunya dengan awal terbentuknya Masyarakat Eropa di awal tahun 1950-an. Ketika itu muncul keinginan untuk membentuk suatu European Defense Community (1954) namun gagal diwujudkan karena ada Perang Dingin dan sudah ada NATO yang terbentuk pada tahun 1949 sebagai pilar pertahanan utama Eropa barat dalam menghadapi Uni Soviet. Sejalan dengan robohnya komunisme di akhir tahun 1980-an, paradigma pertahanan Eropa juga mulai berubah. Eropa tidak lagi menghadapi ancaman oleh Uni Soviet dan para sekutunya di Eropa Timur, tetapi adanya berbagai fenomena baru seperti konflik antaretnis, failed states, kejahatan terorganisir, terorisme, proliferasi persenjataan pemusnah massal dan lain-lain.
Pembentukan EU Rapid Reaction Force oleh Aris Munandar
Di bidang pertahanan dan keamanan, UE saat ini sedang sibuk dengan pelaksanaan berbagai proyek dan program dalam rangka membentuk pasukan gerak cepat (EU Rapid Reaction Force) yang ditargetkan harus terwujud paling lambat akhir tahun 2003. Tujuan yang disebut juga sebagai Headline Goal ini ditetapkan pada KTT UE di Helsinki Desember 1999, sebagai pilar utama dalam memperkuat kebijakan keamanan dan pertahanan UE (European Security and Defense Policy/ESDP). Pasukan gerak cepat UE akan terdiri dari 60 ribu orang yang dapat digelar dalam waktu 60 hari untuk misi yang lamanya satu tahun. Adapun tugas-tugas yang akan diembannya mencakup misi kemanusiaan serta penyelamatan, penjagaan keamanan dalam manajemen krisis, termasuk pembangunan perdamaian (peace building).
GSP UE dan Manfaatnya Bagi Indonesia oleh Dody Widodo
The Generalised System of Preferences (GSP) adalah skema yang meliputi produk industri dan pertanian dari negara berkembang yang diberikan akses khusus untuk masuk ke pasar negara maju. Pemberian skema GSP oleh negara maju kepada negara berkembang mempunyai banyak tujuan disamping untuk meningkatkan perekonomian negara penerima GSP melalui perdagangan luar negerinya juga dalam rangka diversifikasi negara-negara pemasok sehingga dengan makin banyaknya negara yang menjadi pemasok maka harga ekspor ke negara maju pemberi GSP akan sangat bervariasi dan dengan makin banyaknya sumber maka kelangkaan barang-barang impor akan semakin kecil.