oleh Widyarka Ryananta
Sejak bergabung di tahun 1981, untuk ke empat kalinya Yunani memperoleh giliran memegang jabatan Presidensi Uni Eropa kurun waktu 1 Januari - 30 Juni 2003. Beberapa kalangan agak menyangsikan kepemimpinan Yunani, sebab selain program kerjanya cukup ambisius karena cakupannya luas dan kompleks, kinerja masa presidensi Yunani dulu (tahun 1983, 1988 dan 1994) dianggap kurang memenuhi harapan, antara lain tercermin dalam menyuarakan kebijakan luar negeri UE yang kadang tidak sejalan dengan aspirasi mayoritas negara anggota.
oleh Mohammad K. Koba
Pada tanggal 27 - 28 Januari 2003 di Brussel telah diadakan ASEAN - EU Ministerial Meeting (AEMM) ke-14 yang diketuai bersama oleh Menlu Laos (sebagai country coordinator hubungan ASEAN-UE) dan Menlu Yunani (sebagai presidensi UE). AEMM ke-14 diawali dengan Pertemuan Tingkat Pejabat Tinggi (SOM) ASEAN - UE. AEMM kali ini adalah yang pertama kali mengambil tempat bukan di negara presidensi UE. Penyelenggaraan AEMM secara bergantian antara UE dan ASEAN selalu mengambil tempat di negara yang sedang menjabat presidensi UE (jika UE menjadi tuan rumah). Namun demikian pihak ASEAN menunjukkan jiwa besar dengan menerima pemindahan tersebut mengingat sulitnya mencari waktu yang tepat untuk dapat mengumpulkan 15 menlu UE.
oleh Sondang Anggraini
Sejak diselesaikannya perundingan terakhir World Trade Organisation (WTO), yaitu Putaran Uruguay pada tahun 1995, UE secara bertahap membuka pasarnya terhadap impor produk pertanian dari negara ketiga. UE menghormati komitmen yang diadopsi pada tahun 1995 baik untuk menurunkan tingkat tarif, maupun menurunkan bantuan domestik dan ekspor bagi produk pertanian. Sebagai tambahan UE telah menyelesaikan berbagai perjanjian bilateral perdagangan bebas dan pengaturan preferensi perdagangan, yang secara substansial memberikan keuntungan bagi negara-negara berkembang.