 |
Berita Politik (Mei 2003) KTT Mini Pertahanan Eropa diadakan di Brussel pada tanggal 29 April 2003 dan dihadiri oleh empat kepala negara/pemerintahan dari enam negara pendiri Masyarakat Eropa/ME (sekarang menjadi UE) dan sekaligus juga merupakan kelompok anggota UE yang anti-perang Irak, yaitu Presiden Perancis Jacques Chirac, Kanselir Jerman Gerhard Schroder, PM Belgia Guy Verhofstadt dan PM Luksemburg Jean-Claude Juncker. Kedua negara pendiri ME lainnya adalah Italia dan Belanda. KTT tersebut diselenggarakan atas inisiatif Belgia yang dicetuskan bulan Maret lalu pada KTT UE di Brussel, dengan tujuan untuk membicarakan langkah-langkah peningkatan kerjasama di bidang kapabilitas pertahanan Eropa agar menjadi lebih terpadu (integrated) dan dapat mengurangi ketergantungan militer pada AS. Ide ini sebenarnya bukan baru karena sebelumnya sudah pernah disuarakan oleh Inggris, Perancis dan Jerman setelah peristiwa 11 September 2001. Dalam kaitan ini, PM Belgia Guy Verhofstadt menyatakan bahwa gagasan penyelenggaraan KTT ini didorong oleh adanya kebutuhan untuk memperkuat kebijakan bersama antara negara-negara UE di bidang luar negeri dan keamanan (termasuk hankam) yang citranya melemah akibat perpecahan yang dialami negara-negara anggota UE dalam menghadapi masalah Irak.
KTT yang oleh kalangan pers mendapatkan beberapa julukan seperti "the Gang of Four", "the Coalition of the Unwilling", dan "The Not-So Famous Four" tersebut tidak mengundang negara-negara UE lainnya, termasuk Belanda dan Italia sebagai negara pendiri UE (ME), Inggris sebagai negara terkuat di bidang militer di UE, Yunani sebagai Presiden Dewan Eropa saat ini, dan juga Javier Solana sebagai Sekjen Dewan UE/High Representative CFSP yang bertanggung jawab di bidang kebijakan luar negeri dan pertahanan UE. Oleh karenanya beberapa kalangan menyebut KTT tersebut sebagai tidak terlalu serius, khususnya karena hanya meluncurkan gagasan pendirian institusi-institusi baru tanpa adanya komitmen untuk meningkatkan anggaran pertahanan untuk bisa mewujudkan rencana menjadi kenyataan. Sebagai ilustrasi Perancis (bersama Inggris) mengalokasikan 2,5% dari GDP untuk anggaran pertahanan; Jerman sebesar 1,5% dari GDP; Belgia 1,3% dan Luksemburg hanya 0,8%.
KTT mini telah mengeluarkan satu pernyataan bersama dalam bentuk konklusi yang antara lain memuat visi pertahanan Eropa yang ingin dicapai dan serangkaian usulan langkah-langkah yang diperlukan guna mencapai visi tersebut, yaitu:
-
Visi dimaksud adalah Eropa harus dapat berbicara dengan satu suara dan sepenuhnya memainkan peranan di arena internasional. Karena itu, adalah perlu untuk memberikan dorongan baru (new impetus) bagi terwujudnya kawasan Eropa yang aman dan kuat pertahanannya (Europe of security and defense). UE harus memiliki kebijakan hankam yang dapat dipercaya (credible) karena langkah-langkah diplomatik hanya dapat credible dan efisien apabila didasarkan pada kapabilitas militer dan sipil yang nyata.
-
Guna memberikan dorongan bagi terwujudnya kawasan Eropa yang aman dan kuat pertahanannya dimaksud, KTT mengusulkan kepada Konvensi tentang Masa Depan Uni Eropa dan InterGovernmental Conference (IGC) agar menyepakati dan memasukan prinsip-prinsip di bawah ini kedalam Constitutional Treaty UE yang naskahnya saat ini sedang persiapkan Konvensi, yaitu:
-
Kemungkinan dilakukannya kerjasama yang lebih maju di bidang pertahanan;
-
A general clause of solidarity and common security yang mengikat semua negara anggota UE sehingga memungkinkan mereka mampu menghadapi berbagai macam ancaman yang dapat berdampak buruk pada UE;
-
Merumuskan kembali the Petersberg missions sehingga UE dapat memakai civilian and military means untuk mencegah konflik dan manajemen krisis;
-
Mendirikan badan khusus untuk pengembangan dan perolehan kapabilitas militer UE. Badan ini akan membantu menciptakan iklim yang baik bagi berkembangnya industri pertahanan UE yang berdaya saing.
-
Selanjutnya, KTT mengusulkan agar Konvensi juga menerima konsep European Security and Defence Union (ESDU) yang tugasnya adalah untuk mempertemukan negara-negara anggota UE yang sudah siap untuk bergerak cepat dan lebih jauh dalam memperkuat kerjasama pertahanan mereka. Negara-negara yang mengambil bagian dalam ESDU akan memegang komtimen untuk saling membantu dalam menghadapi berbagai macam ancaman; secara sistematis berupaya menyelaraskan posisi mereka dalam isu-isu hankam; mengkoordinasikan upaya pertahanan; dan mengembangkan kapabilitas militer mereka. Sementara itu, bentuk partisipasinya dalam ESDU akan mencakup partisipasi dalam proyek-proyek besar pembuatan perlengkapan militer UE seperti A400M; memperkuat efisiensi kapababilitas militer UE, dan bersedia turut serta dalam operasi pemeliharaan perdamaian di bawah naungan PBB.
-
KTT juga sepakat untuk mengimplementasikan sejumlah inisiatif kongkrit guna lebih menyatukan dan mengorganisasikan instrumen-instrumen pertahanan nasional antara negara-negara UE demi meningkatkan efisiensi kapabilitas pertahanan UE. Inisiatif-inisiatif dimaksud mencakup:
-
Pengembangan kapabilitas EU rapid reaction force yang terbuka bagi partisipasi negara-negara anggota lainnya. Kapabilitas dimaksud dapat diperkuat oleh pasukan dari negara anggota yang berminat dan dapat dipakai baik bagi operasi militer UE khusus, NATO maupun operasi yang dijalankan UE di bawah naungan PBB;
-
Pembentukan komando UE bagi angkutan udara yang bersifat strategis paling lambat Juni tahun 2004, yang dapat dipakai baik bagi operasi-operasi militer UE maupun NATO;
-
Pendirian suatu pusat kapabilitas perlindungan Eropa (European protection capability) untuk melindungi pasukan militer dan warga sipil dari ancaman serangan-serangan senjata kimia, biologi dan nuklir;
-
Pendirian EU-FAST (European Union First Aid and Support) untuk menyebarkan bantuan kemanusiaan darurat dalam waktu 24 jam setelah suatu bencana terjadi;
-
Pendirian pusat-pusat latihan taktis militer UE untuk para penerbang dan kru pesawat dibarengi dengan penyesuaian kurikulum di bidang pelatihan di laut; penguatan kapabilitas militer UE, khususnya yang terkait dengan masalah perencanaan dan pelaksanaan operasi dan lain-lain;
-
Guna meningkatkan kapabilitas kendali dan komando yang dapat dipakai baik oleh UE maupun NATO, para menteri pertahanan dari empat negara peserta KTT ini akan mengambil langkah-langkah untuk mendirikan paling lambat tahun 2004 sejumlah markas besar pasukan multinasional untuk operasi bersama (joint operation), dengan memanfaatkan dan mengembangan markas besar yang sudah ada.
Meskipun para peserta KTT menyatakan bahwa pertemuan tersebut sifatnya tidak anti-AS dan juga tidak menantang NATO, namun sulit dipisahkan dari anggapan seperti itu. Khususnya karena penyelenggaraan KTT waktunya belum begitu lama dari puncak ketegangan antara UE-4 diatas dengan AS dan sekutunya di Eropa (Inggris, Spanyol, Italia) dalam kaitannya dengan rencana serangan "Coalition of the Willing" terhadap Irak pada waktu itu. Selain itu, ide pembentukan suatu pusat komando dan perencanaan bersama bagi operasi-operasi militer UE secara terpisah dari NATO juga sulit untuk tidak dianggap sebagai suatu langkah yang nantinya bisa menyaingi NATO karena merupakan bentuk "duplikasi" dari institusi serupa yang sudah ada dalam NATO.
Hasil-hasil KTT tersebut menunjukkan adanya sikap hati-hati untuk tidak secara terang-terangan menantang AS/NATO karena sebenarnya semula Belgia juga menginginkan pembentukan suatu markas besar militer UE di Tervuren (dekat Brussel). Perancis dan Jerman yang akhir-akhir ini berusaha memperbaiki hubungannya dengan AS dan Inggris telah meminta Belgia agar gagasan kontroversial tersebut tidak dilanjutkan. Dalam kaitan ini, seusai pertemuan PM Belgia mencoba membantah bahwa KTT tersebut bertujuan untuk mencari bentuk tandingan bagi NATO atau melemahkannya. Ditekankan bahwa KTT bertujuan untuk membangun kemitraan Atlantik baru (new Atlanticism) dengan pilar Eropa yang kuat. Menurutnya, hal ini akan bermanfaat bagi NATO, AS dan Eropa.
Adanya perubahan target tersebut juga dipengaruhi oleh adanya berbagai kritikan tajam dari negara-negara anggota UE lainnya, yang memandangnya sangat eksklusif dengan partisipasi hanya empat negara. Sebelumnya PM Inggris Tony Blair menyatakan KTT tersebut sebagai tidak signifikan bagi pertahanan Eropa dan mengingatkan para pesertanya agar tidak melakukan inisitiatif yang dapat membahayakan NATO. PM Italia Franco Franttini menilai satu kerjasama pertahanan Eropa tanpa mengikutsertakan Inggris yang memiliki kekuatan militer terbesar di antara negara-negara UE adalah tidak masuk akal. PM Franttini mengingatkan bahwa seandainya aliansi militer mini antar keempat negara tersebut terjadi, hal ini akan mengundang negara-negara UE lainnya seperti Italia, Inggris dan Spanyol untuk mendirikan aliansi militer kecil serupa, dan pada gilirannya akan semakin menimbulkan perpecahan di antara negara-negara UE. Sementara itu, Menlu Spanyol menyatakan kebijakan pertahanan dan keamanan Eropa tidak bisa dikukuhkan sebagai kebijakan Eropa secara menyeluruh apabila hanya disetujui oleh empat anggota UE saja.
Perancis dan Jerman yang awalnya sangat mendukung gagasan PM Belgia ini, belakangan tampak kurang antusias dan berupaya sebisa mungkin untuk bersikap "low profile" dalam menghadapi KTT ini dengan tidak mengeluarkan banyak pernyataan terbuka menjelang KTT. Salah satu alasannya adalah dengan keberhasilan yang secara cepat dicapai AS dan Inggris dalam perang melawan Irak, posisi Perancis ternyata menjadi terisolasi di Eropa. Di samping itu, kedua negara tersebut berkeinginan untuk memperbaiki hubungan dengan AS. Sehubungan dengan itu pula, Perancis dan Jerman belakangan menarik diri dari sejumlah gagasan semula yang sifat sangat kontroversial dan dapat dinilai "undermining" NATO (seperti pembentukan angkatan bersenjata UE yang mandiri dengan gerakan melalui pusat komando militer tersendiri di Belgia), guna menghindari semakin renggangnya hubungan dengan AS. Menjelang KTT berlangsung, Perancis dan Belgia menekankan kepada Belgia agar pembahasan di KTT terfokus pada isu-isu yang "less controversial" yang juga sedang dibicarakan di Konvensi Masa Depan Eropa. Isu-isu dimaksud mencakup a solidarity clause yang menawarkan dukungan kepada negara-negara UE lainnya yang dilanda serangan teroris, dan rencana untuk pengadaan senjata UE serta pendirian badan riset strategis. 
| |