Contact | Search | Disclaimer 
Back to home page

  Editorial Lengkap  -  Fokus Lengkap  -  Agustus  -  Juli  -  Juni  -  Mei  -  April  -  Maret  
  Februari  

Berita Politik   (Maret 2003)

Kunjungan Utusan Khusus Presiden RI untuk Urusan GNB ke Uni Eropa (UE)

Pada tanggal 17 Maret 2003, Utusan Khusus Presiden RI untuk Urusan GNB, Dubes Nana Sutresna berkunjung ke Brussel dan  mengadakan pertemuan dengan sejumlah pejabat tinggi UE, yaitu Mr. Robert Cooper, Director General for External Relations, Secretariat-General of the Council of the European Union; Mr. Poul Nielson, Commissioner for Development and Humanitarian Aid; dan Mr. Anthony Cary, Head of Cabinet of the Commisioner for External Relations. Adapun isu-isu yang dibahas adalah tentang penyelenggaraan Asia Africa Subregional Conference (AASROC),  Irak, dan Korea Utara (Korut).

  1. Rencana penyelenggaraan  AASROC

    Mr. Robert Cooper menyambut baik rencana penyelenggaraan AASROC dalam rangka mengembangkan kerjasama kongkrit antar kawasan Asia dan Afrika.  Menurutnya, hal ini penting di tengah-tengah situasi dimana negara-negara Afrika saat ini  yang tampak sudah lelah dengan pola kerjasama dengan UE dan negara-negara anggotanya yang  dinilai terlalu banyak mengajari, sehingga banyak program kerjasama kedua pihak kurang berjalan. Diharapkan  model/kerangka kerjasama dengan Asia dapat lebih diterima oleh negara-negara Afrika dan lebih mencapai sasaran.

    Sementara itu, Mr. Poul Nielson juga menilai positif dan mendukung inisiatif AASROC. Diharapkan agar konferensi tersebut menghasilkan kesepakatan kerjasama berarti antara kedua kawasan. Dari segi subtansinya, Komisioner Nielson mengharapkan negara-negara Afrika dapat belajar dari pengalaman keberhasilan  negara-negara Asia dalam program pendidikan, pengentasan kemiskinan atau bahkan peacekeeping, serta  dari kegagalan-kegelannya juga, misalnya dalam soal perbankan.

    Mr. Nielson juga menilai bahwa tema-tema yang akan dibahas dalam AASROC seperti perdagangan, investasi dan utang luar negeri sebagai tema-tema yang relevan. Tentang bagaimana menarik investasi, menurutnya, isu yang penting bagi dunia usaha khususnya kelas menengah adalah pemerintahan yang bersih dan pemberantasan korupsi. Dalam soal utang luar negeri, Afrika perlu belajar dari pengalaman krisis keuangan Asia, yaitu perlunya banking regulatory system/framework. Di bidang perdagangan, Doha Development Agenda dapat dijadikan dasar kerjasama Asia-Afrika. Dikemukakan pula  bahwa pinjaman terus menerus dari negara-negara donor adalah tidak baik, karena tidak akan mendorong pertumbuhan ekonomi, dan ia menekankan perlunya bantuan hibah yang lebih besar dari negara-negara donor utama daripada utang luar negeri.

    Isu penting lainnya untuk dibahas pada AASROC adalah masalah perlindungan hutan dan kegiatan illegal logging. Mr. Nielson mengharapkan kerjasama UE-Indonesia  di bidang ini dapat berjalan baik, dan kemudian dijadikan contoh kerjasama dengan antara negara-negara dari kedua kawasan.
  2. Irak

    Mr. Cooper memahami keprihatinan Indonesia atas dampak terjadinya perang terhadap stabilitas dalam negeri, khususnya atas kemungkinan meningkatnya gerakan radikalisme agama yang sejauh ini telah berhasil diredam oleh Pemerintah RI.

    Mr. Cooper mengharapkan  perang dapat diselesaikan dalam waktu singkat serta tidak menelan banyak korban. UE yang terdiri dari medium-sized countries mempunyai kapasitas terbatas untuk mempengaruhi AS dalam proses penyelesaian masalah Irak sebagaimana harapan masyarakat internasional.

    Melanjutkan tanggapannya atas  keprihatinan Indonesia, ia mengatakan bahwa sepengatahuannya rejim Saddam Hussein tidak menjalin persahabatan khusus dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.  Ia mengharapkan setelah perang,  Irak akan menjadi negara yang lebih demokratis dan bisa menjamin kebebasan beragama.

    Perang Irak merupakan hal yang tidak dapat dihindari lagi dan  karena itu, perhatian UE  sekarang lebih tertumpu pada langkah-langkah yang harus dilakukan setelah perang berakhir (post-conflict measures). Dalam kaitan ini, pihak UE menekankan  perlunya keterlibatan PBB  dalam menata kembali negara Irak,  segera setelah perang berakhir.

    Para pejabat UE mengharapkan perang benar-benar akan berlangsung singkat dengan korban seminimum mungkin sehingga tidak menciptakan ketidakstabilan Kawasan Teluk termasuk di negara-negara Turki dan Yordania dan di kawasan lain. Disamping itu, untuk memulihkan stabilitas di sejumlah kawasan akibat perang Irak, diharapkan dapat segera diumumkan road map tetang penyelesaian konflik di Timur Tengah (Israel-Palestina).
  3. Korea Utara

    Keinginan Korea Utara (Korut) untuk menyelesaikan masalah program nuklir melalui dialog langsung dengan AS adalah sulit diterima AS yang menginginkan masalah tersebut diselesaikan melalui forum multilateral. Tuntutan Korut dinilai tidak masuk akal karena AS tidak akan membiarkan citranya tercoreng hanya akibat  dialog langsung dengan Korut, yang dimana AS merupakan negara yang tidak mempunyai status dan kedudukan yang sejajar dengan AS di dunia internasional. Adalah berbahaya apabila Korut berpikiran bahwa AS akan melakukan tindakan sebagaimana yang dituntutnya.

    Mengenai  pembatalan  kunjungan Sekjen Dewan UE, Mr.  Javier  Solana  ke  Pyongyang  beberapa  waktu  lalu,  Mr. Cooper menjelaskan alasannya, yaitu karena tidak adanya jaminan dari pihak Korut bahwa pada kunjungannya tersebut, Mr. Solana akan diterima oleh Kim Jung Il.  Ditambahkan bahwa UE  saat ini sedang berupaya untuk mengadalan hubungan yang lebih luas atau "normal relations" dengan Korut dan karena itu, menginginkan dialog dengan Kim Jung Il dalam rangka ini. Mr. Cooper mencatat harapan Indonesia agar UE yang selama ini mempunyai tempat khusus di Korut, tidak meninggalkan negara tersebut dalam keadaan terisolasi.

Catatan:

Berkaitan dengan AASROC, tampak bahwa prospek diperoleh dukungan riil dari Komisi Eropa terhadap penyelenggaraan AASROC dan program-program kerjasama yang disepakati pada konperensi tersebut,  akan lebih baik seandainya ruang lingkup kerjasama AASROC mencakup juga bidang-bidang, tema-tema dan isu-isu yang juga menjadi agenda global Komisi Eropa/UE selama ini. Karena itu,  penetapan agenda melalui pendekatan yang sifatnya dapat memenuhi kepentingan bersama  Asia-Afrika dan UE, adalah penting demi membantu keberhasilan kerjasama dalam kerangka AASROC di masa datang.

Dalam hal masalah Irak, para pejabat UE memahami keprihatinan Indonesia atas dampak perang terhadap stabilitas dalam negeri, dan juga keprihatinan masyarakat di kawasan lain atas bencana kemanusiaan yang mungkin akan terjadi, karena itu pula mengharapkan agar perang berlangsung pendek dan dengan collateral damage yang sangat terbatas pula.
Tentang masalah Korut, terkesan masih besar pengakuan/apresiasi UE terhadap peranan Indonesia dalam upaya memecahkan masalah program nuklir Korut/perdamaian dan keamanan Semenanjung  Korea.  Hal ini terlihat antara lain dengan kertertarikan pejabat UE yang ditemui atas upaya-upaya Indonesia dalam rangka penyelesaian masalah tersebut termasuk atas hasil kunjungan utusan khusus Presiden RI Dubes Nana Sutresna ke Korut beberapa waktu lalu.



 
email this pageprint this page