Contact | Search | Disclaimer 
Back to home page

  Editorial Lengkap  -  Fokus Lengkap  -  Agustus  -  Juli  -  Juni  -  Mei  -  April  -  Maret  
  Februari  

Berita Perindustrian & Perdagangan   (Maret 2003)

UE-India

Komisioner Perdagangan Pascal Lamy pada tanggal 14 Maret 2003 telah melakukan kunjungan singkat ke India untuk menghadiri pertemuan Economic Relationship Working Together Luncheon yang diselenggarakan oleh Confederation of Indian Industries. Kehadiran Lamy bertujuan untuk lebih meningkatkan hubungan kerjasama ekonomi UE-India yang didasarkan atas hubungan perdagangan dan investasi. Lamy berpendapat UE adalah mitra terbesar bagi India dalam hubungan perdagangan dan investasi serta kerjasama  pembangunan.  Selain itu UE juga merupakan mitra terbesar  kedua bagi sumber penanaman modal asing India.     

Hubungan dagang UE-India dalam 20 tahun terakhir berkembang sangat cepat, terlihat dari data ekspor India ke UE pada tahun 1980 yang hanya mencapai €2 miliar pada tahun 1990 meningkat mencapai €5 miliar dan pada tahun 2001  meningkat mencapai €13 miliar. Jenis produk  ekspor India ke UE telah berkembang dari hanya produk-produk tradisional seperti produk tekstil dan pertanian  menjadi  produk-produk mesin, mobil dan produk kimia. Sedangkan ekspor UE ke India meningkat dari €2,5 miliar pada tahun 1980  menjadi €6,5 miliar pada tahun 1990 dan menjadi €13,5 miliar pada tahun 2001. Namun demikian pangsa pasar India hanya 1,3% dari total impor barang UE.  Demikian pula untuk sektor jasa pangsa India hanya 1%.  India hanya mendapatkan 0,2% dari jumlah penanaman modal UE diseluruh dunia. Angka ini tidak ada artinya jika dilihat dari jumlah penduduk India yang mencapai 17% dari populasi dunia. Bandingkan dengan ekspor China yang mencapai 7,5% dari total impor UE.

UE berpandangan Pemerintah India dalam program liberalisasi dan reformasi ekonominya saat ini, memprioritaskan kepada  Foreign Direct Investment (FDI).  Investor asal UE telah mengenal potensi yang besar yang dimiliki oleh pasar India seperti sektor telekomunikasi, asuransi, perbankan dan distribusi. Selanjutnya, liberalisasi dan reformasi dari jasa keuangan dan penerapan peraturan-peraturan sektor telekomunikasi akan menjadi bahan  pertimbangan investor UE guna menghilangkan keraguannya dalam menanam modal di India.

Hubungan Perdagangan Bilateral UE-India

Dalam kerangka kerjasama bilateral UE-India, Lamy menginginkan hubungan dilakukan berdasarkan dua sendi, yaitu - hubungan yang berdasarkan hubungan bisnis, dan hubungan perdagangan yang didasarkan pada agenda positif guna mendorong  interaksi dan integrasi selanjutnya dari hubungan ekonomi ini. Berkaitan dengan agenda positif di atas Lamy ingin menghilangkan kesan negatif terhadap UE yang dianggap terlampau royal menggunakan alat 'trade defence'. Menurut Lami UE, saat ini sangat moderat dalam menggunakan 'trade defence instrument' seperti terlihat dari data tahun 2001, yang menunjukkan hanya 1,2% dari total ekspor India ke UE, sebagai subjek trade defence dan sejak tahun 2001,  enam kasus telah berakhir tanpa pengenaan sanksi dan hanya tiga kasus baru selama tahun 2002. UE sendiri berpendapat saat ini India merupakan negara  terbesar  dalam menggunakan trade defence dan hal ini meningkatkan perhatian industri UE terutama tentang penanganan investigasi tuduhan dumping di India.

Topik lainnya adalah SPS (Sanitary and Phytosanitary measures). Tuntutan penggunaan SPS measures terhadap produk India terus meningkat di seluruh UE. Menurut Lamy hal ini bukan merupakan tindakan proteksionis dari UE tetapi merupakan sebuah keharusan dan tanggung jawabnya dalam melindungi warga UE setelah kejadian pencemaran makanan yang membahayakan kesehatan dan keselamatan warga UE. Sebagai contoh kasus kontaminasi pestisida terhadap air mineral dari India.  UE berpandagngan bahwa keselamatan warga negara adalah sangat penting guna menghindari kejadian serupa di masa mendatang.  UE membuat program untuk India dalam bentuk  'Trade and Invesment Development Program' dengan anggaran sebesar €15 juta dalam bentuk Technical Assistance dan Capacity Building yang bertujuan membantu pemerintah India meningkatkan dan mengembangkan International SPS Standards untuk kepentingan exportir India.

Dalam kesempatan itu juga Lamy menyinggung tentang sejumlah hambatan impor yang dilakukan oleh India. UE merasa sulit untuk masuk ke  India  dimana diskriminasi bea masuk dan pajak yang dikenakan terhadap impor minuman beralkohol. Bea masuk dan pajak yang berlebihan itu mencapai 580%. Mungkin menguntungkan buat pemasukan India tetapi menjadikan India sebagai ''Grey Market''. Selain itu juga India melakukan hambatan dengan penerapan technical regulation dan SPS (mobil, produk makanan, air mineral, tekstil dan masih banyak lainnya) yang mempersulit eksportir UE. UE berharap permasalahan-permasalahan perdagangan yang timbul tidak akan menjadi hambatan bagi peningkatan kerjasama bilateral UE-India seperti telah dicapai kesepakatan kerjasama dalam pengembangan IPTEK, negosiasi tekstil yang terus berlangsung, Customs Area dan dalam waktu bagi kerjasama transportasi maritim.

UE berpendapat peningkatan  kerjasama bisnis dalam kerangka  ''Joint Initiative on Enhancing Trade and Investment'' menjadi sangat penting untuk mendorong kerjasama bisnis UE-India.  Momentum yang telah terbentuk ini tidak boleh terhenti oleh permasalahan-permasalahan sektoral. UE berharap kerjasama ini akan semakin erat dan kedua pihak akan melangkah lebih jauh lagi sebagai mitra berdasarkan Doha Development Agenda (DDA). Dalam kerangka multilateral, Lamy menginginkan hubungan kerjasama bilateral melalui peningkatan hubungan kerjasama multilateral. Untuk mensukseskan Perundingan Perdagangan Cancun Lamy berpendapat masih banyaknya isu-isu yang harus diselesaikan bersama, antara lain,  membuka akses pasar  untuk industri barang,  'special and differential treatment' untuk negara berkembang dan isu-isu pertanian yang tidak terbatas pada isu memproduksi makanan.  Bidang jasa adalah sektor yang sangat dinamis dalam perkembangan ekonomi UE-India dan akan membawa keuntungan yang sangat besar dalam ekonomi dunia yang lebih terbuka.  UE-India juga mempunyai perbedaan seperti pandangan dalam perdagangan dan lingkungan. Momentum ini, diharapkan semakin mendorong kerjasama penanaman modal kedua negara.

UE melihat India saat ini sedang melakukan proses liberalisasi dalam kebijakan penanaman modalnya, karena itu UE berpandangan bahwa India membutuhkan modal yang besar dalam mereformasi ekonomi dalam negerinya dengan dasar perjanjian investasi multilateral yang merupakan bagian dari DDA. Pada akhirnya Lamy mengharapkan kerjasama ini akan memberikan keuntungan bagi perkembangan kerjasama ekonomi antara kedua negara.



 
email this pageprint this page