 |
Berita Pertanian (Mei 2003) Setelah beberapa tahun mengalami masa surut, pertentangan antara UE dengan Amerika Serikat (AS) tentang genetically modified products kembali mengemuka setelah AS yang didukung Kanada, Argentina dan beberapa negara lain meminta WTO melakukan langkah untuk mencabut pembatasan ekspor produk GMOs ke pasar UE. Menanggapi permintaan AS untuk konsultasi yang merupakan langkah awal dalam proses arbritasi WTO, pihak UE menyatakan permintaan tersebut "useless" dan "counter-productive" serta mengandung motif tertentu di belakangnya.
Di lain pihak, US Trade Representative Robert Zoellick menyatakan pada tanggal 21 Mei 2003 bahwa UE selama lima tahun terakhir telah melanggar ketentuan WTO maupun peraturan UE sendiri yang menyatakan bahwa pembatasan penggunaan produk makanan bio-teknologi hanya dapat diterapkan jika dibuktikan secara ilmiah, dan keputusan yang diambil tidak boleh ditunda-tunda. AS juga mempersoalkan larangan penjualan produk GMO yang diterapkan enam negara anggota UE (Austria, Perancis, Jerman, Yunani, Italia dan Luksemburg) yang bertentangan dengan peraturan pada tingkat UE.
Dalam menghadapi tekanan dari AS, pihak UE menuduh ada kepentingan terselubung karena AS memiliki surplus besar di bidang pertanian (20% produksi jagung dan 35% produk kedele GMO) yang harus dilempar ke pasar dunia selain disalurkan sebagai bantuan pangan ke negara-negara miskin. Sudut pandang UE terbalik dibanding AS, karena dengan prinsip "precautionary" menganggap tidak dapat merekomendasikan penggunaan produk GMOs sampai secara ilmiah dapat dibuktikan tidak berdampak negatif pada kesehatan manusia dan lingkungan. (DK)
Sumber: Bulletin Quotidien Europe, No. 8467, 22 May 2003

| |