EDITORIAL 2003
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| AGUSTUS |
Oleh: Widyarka Ryananta |
Jerman diketahui melanggar ketentuan "Stability and Growth Pact (SGP)", yang mensyaratkan semua negara anggota UE defisit APBN-nya tidak boleh melebihi 3%, awal Januari 2003. Meski telah memperoleh rekomendasi Dewan UE agar melakukan berbagai langkah perbaikan, namun pada tanggal 29 Agustus 2003, pemerintah Jerman justru mengumumkan proyeksi anggaran belanjanya untuk tahun ini defisit sekitar 3,8%. Penyimpangan dari ketentuan batas maksimum defisit tersebut disebabkan oleh terjadinya stagnasi ekonomi di dalam negeri.
|
| JULI |
Trans Regional EU-ASEAN Trade Initiative (TREATI) Oleh: Sondang Anggraini
|
ASEAN dan Uni Eropa telah melakukan kerjasama cukup lama di bawah payung EU-ASEAN Cooperation Agreement yang ditandatangani pada tahun 1980. Namun demikian di bidang perdagangan kerjasama tersebut dipandang oleh UE masih kurang memuaskan. Apalagi saat ini UE telah memiliki berbagai kerjasama antar kawasan dengan beberapa mitranya seperti Mercosur, Meksiko dan Kanada. Oleh sebab itu dalam pertemuan para Menteri Luar Negeri ASEAN-UE di Brussel bulan Januari 2003, Komisioner Perdagangan Pascal Lamy melakukan intervensi dengan menyampaikan suatu konsep inisiatif kerjasama UE-ASEAN di bidang perdagangan dan investasi dimasa yang akan datang. |
|
Catatan Keberhasilan Presidensi Yunani Oleh: Widyarka Ryananta |
Yunani nampak belajar dari pengalaman masa presidensi sebelumnya, sehingga mampu memupus kesangsian para pakar, praktisi dan media massa dalam memimpin Uni Eropa periode Januari - Juni 2003. Secara umum kinerja Yunani cukup berhasil, dan bisa menjadi model kepemimpinan efektif Dewan Eropa yang dilaksanakan dengan semangat kebersamaan. Peran presidensi Yunani sangat dirasakan dalam menangani masalah krusial, mengelola manajemen krisis, mengambil prakarsa dan langkah mediasi untuk menjembatani perbedaan serta merumuskan posisi bersama di antara negara anggota saat menghadapi soal Irak dan implikasinya terhadap hubungan transatlantik dengan AS.
|
|
Oleh: Agus Sardjana |
Gagasan bagi pembentukan suatu Kebijakan Pertahanan Eropa sudah sejak lama ada hampir bersamaan waktunya dengan awal terbentuknya Masyarakat Eropa di awal tahun 1950-an. Ketika itu muncul keinginan untuk membentuk suatu European Defense Community (1954) namun gagal diwujudkan karena ada Perang Dingin dan sudah ada NATO yang terbentuk pada tahun 1949 sebagai pilar pertahanan utama Eropa barat dalam menghadapi Uni Soviet. Sejalan dengan robohnya komunisme di akhir tahun 1980-an, paradigma pertahanan Eropa juga mulai berubah. Eropa tidak lagi menghadapi ancaman oleh Uni Soviet dan para sekutunya di Eropa Timur, tetapi adanya berbagai fenomena baru seperti konflik antaretnis, failed states, kejahatan terorganisir, terorisme, proliferasi persenjataan pemusnah massal dan lain-lain.
|
|
Oleh: Sondang Anggraini |
Tahun 2003 merupakan tahun kesepuluh dari 15 negara Uni Eropa setelah membuka batas-batas dari pasar internalnya menjadi satu kesatuan pasar secara penuh. Dengan menjadi satu pasar internal telah membuka pasar terhadap perpindahan barang, jasa dan tenaga kerja secara bebas. Sebagai dampaknya telah terjadi peningkatan ekonomi yang sangat besar di negara-negara anggota UE. Menurut laporan dari Direktoral Jenderal Internal Market Komisi Eropa, selama sepuluh tahun terakhir Produk Domestik Bruto (PDB) UE telah meningkat menjadi €877 miliar, jumlah tersebut secara rata-rata telah memberikan tambahan pendapatan sebesar €5.700 per kepala rumah tangga. Internal market juga telah mengikat ekonomi dari negara UE untuk lebih saling mendekat, sebagai akibatnya arus perdagangan antara anggota UE menjadi semakin deras sejak tahun 1993, dimana pada tahun 2001 komposisi total perdagangan internal telah mencapai 61% dan perdagangan eksternal 39%.
|
|
MARET |
Perkembangan CFSP Pasca Perang Irak Oleh: Aris Munandar |
Pada bulan ini, Amerika Serikat (AS) dengan dibantu Inggris yang merupakan sekutu utamanya, akhirnya melancarkan serangan militer besar-besaran ke Irak, tanpa ada pihak yang bisa menghalangi. Uni Eropa (UE) yang semula diharapkan oleh sementara kalangan di Brussel agar dapat menjadi satu kekuatan besar yang mampu mencegah tindakan unilateral AS, ternyata mengalami perpecahan di antara para anggotanya sendiri dan gagal mempengaruhi sikap keras negara adidaya tersebut. Ironinya, justru banyak di antara mereka dapat dipengaruhi AS agar mendukung serangan militer tersebut.
|
| FEBRUARI |
Oleh: Wening Esthyprobo
|
Pada tanggal 17 Februari 2003, mata dan perhatian dunia menyorot ke Brussel, Markas Besar Uni Eropa di jantung Belgia, tak kurang dari Kofi Annan, Sekretaris Jenderal PBB yang khusus menghadiri KTT Khusus UE dengan agenda membahas krisis Irak. Setelah diombang-ambingkan oleh sikap beberapa anggotanya yang mendukung agresifitas Amerika Serikat dan ketidakefektifan Common Foreign and Security Policy, pada akhirnya Yunani selaku Presidensi UE telah berhasil mengundang para pemimpin Eropa dan melaksanakan KTT Khusus. Pertemuan berhasil mengirimkan sinyal bahwa perbedaan polugri masing-masing anggotanya dalam menyikapi rencana serangan AS ke Irak telah teratasi. Meskipun beberapa komentar menyebutkan bahwa hasil KTT merupakan "lowest common denominator", dapat dikatakan bahwa Pertemuan telah berhasil membuat Eropa bersatu kembali.
|
| JANUARI |
Tantangan Presidensi Yunani Oleh: Widyarka Ryananta |
Sejak bergabung di tahun 1981, untuk ke empat kalinya Yunani memperoleh giliran memegang jabatan Presidensi Uni Eropa kurun waktu 1 Januari - 30 Juni 2003. Beberapa kalangan agak menyangsikan kepemimpinan Yunani, sebab selain program kerjanya cukup ambisius karena cakupannya luas dan kompleks, kinerja masa presidensi Yunani dulu (tahun 1983, 1988 dan 1994) dianggap kurang memenuhi harapan, antara lain tercermin dalam menyuarakan kebijakan luar negeri UE yang kadang tidak sejalan dengan aspirasi mayoritas negara anggota.
|
Disclaimer The Mission accepts no responsibility for checking the accuracy of information accessed through this site and therefore makes no representation concerning its completeness, truth, accuracy, or its suitability for any particular purpose. Users are advised to rely on their own independent investigations. |